RSS Feed

Facebook Periksa Pengawasan Privasi


(ANTARA/Andika Wahyu)Palo Alto (ANTARA News) – Facebook tengah memeriksa sistem pengawasan privasi penggunanya menyusul berondongan kritik yang menyebut Facebook mengkhianati kepercayaan (pengguna) yang justru telah mengantarkan Facebook menjadi jejaring sosial terbesar di dunia.

“Itu menjadi minggu-minggu yang amat menegangkan bagi kami, mendengarkan semua masukan dari semua perubahan yang telah kami buat,” kata pendiri Facebook yang masih berumur 26 tahun, Mark Zuckerberg, ketika mengumumkan penyederhanaan pengawasan untuk privasi penggunanya.

“Secara internal tim kami menggeber segalanya selama beberapa minggu terakhir ini.”

Facebook memperkenalkan halaman seting privasi yang didesain ulang dengan memberikan pola kendali tunggal untuk konten dan mengurangi secara signifikan jumlah informasi yang selalu terlihat.

Facebook juga mengatakan akan memberi para penggunanya kendali yang lebih ketat atas bagaimana aplikasi atau laman-laman luaran dapat mengakses informasi di layanan jejaring sosial ini.

“Ini menjadi pengecekan besar-besaran atas sistem yang telah kami miliki,” kata Zuckerberg saat menerangkan perubahan-perubahan itu dalam brifing pers di kantor pusat jejaring sosial itu di Palo Alto, California.

“Kini kami tengah mengerjakan itu sehingga lebih sedikit informasi yang mesti dipublikasikan. Orang menginginkan cara yang mudah untuk mengontrol cara informasi dibagi dengan pihak ketiga, dan itulah yang sedang kami lakukan,” katanya.

Pengawasan privasi yang diubah ini akan diluncurkan pada hari-hari mendatang.

Bulan lalu Facebook mengundang kritik dari kelompok perlindungan privasi dan konsumen, wakil-wakil rakyat di AS dan Uni Eropa, karena menambahkan kemampuan pada laman-laman mitranya untuk menyambung dengan lumbung data mengenai anggota layanan jejaring sosial itu.

“Facebook telah mendengarkan seruan para penggunanya dan mengakui bahwa perlindungan privasi yang lebih besar memang diperlukan,” kata Senator AS Charles Schumer, yang adalah diantara wakil rakyar yang mendesak penyelidikan terhadap sistem perlindungan privasi di jejaring sosial itu.

“Ini adalah langkah awal penting yang membuat Faceboook mesti dipuji. Kami akan memonitor ini dengan hati-hati,” kata anggota Demokrat dari New York ini.

Schumer adalah salah seornag diantara pengkritik yang menuntut Facebook untuk membuat semua informasi pribadi tidak diakses orang lain dan membiarkan para penggunanya merancang hal apa yang ingin dibagi dengan orang lain lewat model “opt-in”.

Facebook menolak model ini dengan berkilah bahwa lebih dari 400 juta penggunanya masuk dalam jaringannya karena ada premis yang menyebutkan mereka ingin terkoneksi dan berbagi dengan teman-temannya.

“Ornag ingin tetap tersambung dengan keluarga, teman dan orang-orang di sekitarnya; itu adalah hal inti yang kami kerjakan,” kata Zuckerberg.

“Kami percaya sekali pada privasi dan memberi orang pengawasan. Ada keseimbangan, dan semakin banyak saja orang ingin berbagi informasi sepanjang mereka memiliki kontrol yang baik atas hal itu,” sambungnya.

Sistem pengawasan privasi baru ini akan diaplikasikan dalam fitur-fitur masa depan, termasuk layanan berbasis lokasi yang tengah Facebook kerjakan, demikian sang pendiri Facebook itu.

“Kami menciptakan perubahan karena kami pikir itulah yang seharusnya dilakukan. Kami mendengarkan masukan dan kami setuju dengan masukan itu,” kata Zuckerberg.

Dia menambahkan, perlindungan privasi oleh Facebook tidak ada kaitannya dengan meningkatnya pendapatan iklan.

“Pandangan yang menyebutkan kami berubah demi iklan adalah keliru. Orang-orang yang mengenal saya tahu bahwa itu gila,” kata Zuckerberg.

Uni Kekebasan Sipil Amerika (ACLU) menyambut baik perubahan Facebook itu, namun perubahan-perubahan itu dinilai belum cukup.

“Kita menang, jadi teruslah menekan,” kata Direktur ACLU Anthony Romero dalam pernyataan melalui email.

Romero mendesak orang-orang untuk menandatangani petisi online yang menuntut Facebook melindungi sepenuhnya privasi penggunanya. Petisi itu telah ditandatangani oleh lebih dari 80.000 orang, demikian ACLU. (*)

AFP/Jafar Sidik

Posted with WordPress for BlackBerry .

Advertisements

About kummy

I'm an obstetrition and gynecologist.. Work in Siloam Hospitals Bali...

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: